
Setiap malam jumat di pondokku, biasanya selalu diadakan ceramah oleh pimpinan pondok pesantren, KH. Wawan Setiawan MA. Setiap malam jumat pula aku selalu datang lebih awal setelah berjamaah sholat Isya. Hal ini selalu ku lakukan karena aku tak pernah mau tertinggal satu katapun dari ceramah pak kyai. Apabila aku duduk di belakang, konsentrasiku biasanya buyar soalnya teman-teman suka mengajak ngobrol, dan akhirnya aku tak bisa lagi menangkap isi pembicaraan pak kyai.
Malam itu, aku aneh melihat pak kyai membawa kalkulator. Pak kyai biasanya tidak pernah membawa apa-apa, mungkin karena apa yang disampaikan oleh pak Kyai telah dipahami, atau paling pak Kyai membawa kitab satu kitab untuk dibacakan. Kembali ke masalah keanehanku tadi, aku lalu bertanya-tanya dalam hati, apa gerangan yang akan dihitung oleh pak Kyai?..
Pertanyaan yang menghinggapiku malam itu terjawab ketika setelah selesai pembukaan ceramah, pak kyai meminta kami untuk mengeluarkan alat tulis dan meminta kami menghitung bersama. Pertama-tama, pak kyai menanyai jam berapa kami bangun pagi, lalu beliau bertanya berapa lama kami mandi setiap hari, berapa lama kami wudhu, berapa lama kami makan, dan lain-lainnya. Ohh…kami baru mengerti apa gerangan yang menyebabkan pak Kyai malam ini membawa kalkulator, bukan kitab. Lalu, beliau dengan serius menjumlahkan, banyaknya waktu yang kami pakai setiap hari, dikali seminggu, dikalikan lagi sebulan, tahun, hingga perkiraan umur kami. Hasilnya, Subhanallah…hanya sedikit sekali yang kami gunakan untuk beribadah kepada Allah.
Dari situ, saya sadar bahwa hidup yang sebentar ini, hanya menyisakan sebentar sekali untuk beribadah. Hal ini menyadarkan saya, bahwa hidup tanpa perencanaan hanya akan menyebabkan penyesalan dan kesia-siaan.
Mungkin hal yang dilakukan oleh pak Kyai merupakan hal yang sedikit aneh, karena biasanya kyai-kyai hanya akan membuka kitab lalu menerangkan panjang lebar tentang kewajiban memanfaatkan waktu. Namun, dengan kalkulator yang dibawa beliau malam itu, memberikan kami penyadaran yang sungguh mengejutkan kepada kami, bahwa kegiatan yang dilakukan oleh kami yang berada di pesantren ini belum ada apa-apanya, apalagi yang diluar sana.
Setelah selesai pesantren dan kini menjalani kesibukan kuliah, mungkin saya atau kita bisa sedikit meluangkan waktu dan kembali mengambil kalkulator untuk kembali menghitung, berapakan waktu yang telah kita gunakan untuk beribadah kepada Allah dan waktu yang benar-benar digunakan untuk belajar, dan kita akan sangat terkejut sekali dengan hasil yang akan kita temukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar